Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Insurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2)

Insurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2) - Hello Bro and Sis okeasuransi, In the article you are reading this time with the title Insurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2), We have prepared this article well for you to read and take information in it. hopefully the contents of the post Article Insurtech, what we write you can understand. Alright, happy reading.

Title : Insurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2)
link : Insurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2)

Read also


Insurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2)

 Di mana posisi insurtech saat ini?

Tidak berbeda dengan fintech, insurtech berfokus pada segmen ritel. 75 persen bisnis insurtech menyasar segmen ritel sedangkan sisanya di segmen komersial. Insurtech menyasar milenial dan orang muda. Kaum milenial dan orang muda cenderung menghargai kenyamanan dalam bertransaksi dan suka mengeksekusi transaski dari jarak jauh. Jika perlu, mereka ingin bertransaksi tanpa interaksi langsung dengan institusi. Karena itulah proses pengajuan asuransi dan klaim melalui saluran digital yang tanpa batas ruang dan waktu akan menjadi prioritas. 

Meskipun insurtech banyak berfokus pada segmen retail, insurtech mulai menyasar segmen komersial. Meski demikian, segmen komersial pada insurtech lebih berfokus pada pencegahan kerugian dan efisiensi. 

Berdasarkan penelitian dari McKinsey Panorama Insurtech, pada keseluruhan rantai nilai asuransi, insurtech aktif berinovasi terhadap saluran distribusi (37 persen) dan penetapan harga (23 persen). Dalam hal distribusi, 75 persen dari insurtech fokus pada distribusi, dengan membuat produk tersedia bagi pelanggan dengan memfasilitasi perbandingan produk dan menyederhanakan proses pembelian. Kegiatan ini dibangun di atas keberhasilan agregator seperti comparethemarket.com atau confused.com—pelopor e-commerce yang pindah ke layanan keuangan di abad ke-21 dan sekarang menjadi pemimpin dalam asuransi digital.

Bentuk insurtech sangat mengadopsi dan mengadaptasi teknologi baru. Beberapa teknologi baru mendukung inovasi produk secara spesifik termasuk asuransi micro, used-based insurance, dan asuransi peer-to-peet. Lainnya memiliki penerapannya dalam berbagai industri termasuk machine learning, robo-advisory, dan Internet of Things (Gambar 2). 



Insurtech sedang mencari kumpulan nilai

Insurtech secara jelas mewakili risiko pasar untuk pemain lama. Dengan model operasi yang gesit dan inovasi digital, mereka pada awalnya akan menargetkan kumpulan keuntungan menarik yang dibuka oleh digital dan menangkap pangsa di antara segmen pelanggan tertentu. Start-up Insurtech baru saja memmulai untuk menangani sekumpulan nilai potensial; insurtech masih dalam masa pertumbuhan, tetapi sudah mulai berdampak pada industri. Industri asuransi global mewakili volume premi sebesar $4 triliun menurut McKinsey Global Insurance Pool. Pada saat yang sama industri saat ini mencapai tingkat pertumbuhan yang relatif rendah di wilayah di mana insurtechs memiliki penetrasi tertinggi, yaitu Eropa Barat dan Amerika Utara. Di wilayah ini hanya pertumbuhan 4 tahun di bidang health yang secara signifikan mengungguli pertumbuhan PDB dengan 6,2 persen terhadap pertumbuhan PDB yang hanya sebesar 2,7 persen sementara P&C dan asuransi jiwa masing-masing hanya mencapai pertumbuhan 3,0 persen dan 2,5 persen.

Gambar 3 di bawah ini menunjukan nilai proposisi perinsurtech berdasarkan database McKinsey Panorama yang menggarisbawahi bagaimana insurtech menyerbu pasar. Empat puluh persen insurtech  memiliki proposisi nilai utama yang dibangun untuk menemukan cara baru untuk tumbuh yaitu dengan cara memperkenalkan produk atau layanan baru atau memasuki segmen baru; sedangkan 22 persen lainnya berfokus pada penurunan biaya akuisisi dengan menyediakan layanan digital antarmuka keppada pelanggan dan menggunakan suatu model langsung. Perusahaan insurtech sisanya membangun proposisi nilai mereka pada seputar penurunan biaya admin polis, manajemen klaim, dll. melalui  digitalisasi dan perampingan proses.



Dalam hal pencarian cara untuk berkembang, satu kunci dari kesuksesan insurtech adalah bahwa mereka masuk ke dalam pasar yang tidak pernah disentuh dan mengalamatkannya pada kebutuhan yang belum pernah terpenuhi. BIMA, suatu microinsurer mobile yang berasal dari Swedia menyediakan asuransi berpremi rendah di pasar berkembang yang memiliki penetrasi mobile yang relatif tinggi dan jaminan asuransi yang sangat sempit. Dengan menyediakan asuransi mobile di target pasar tersebut, BIMA mencapai petumbuhan yang tinggi pada tahun 2011. Kini BIMA memiliki 20 juta pelanggan di 15 negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin dengan menyediakan asuranssi pay-as-you go dan mobile health service untuk orang-orang yang hidup dengan biaya kurang dari $10 per hari.

Kehadiran insurtech dalam membuat terobosan ke dalam industri asuransi mungkin meningkatkan tingkat pertumbuhan industri secara keseluruhan, dan pasti akan mendapatkan pangsa pasar dengan model digital mereka. Investor dan talenta industri adalah orang-orang yang percaya. Lemonade, perusahaan asuransi peer-to-peer yang berbasis di AS telah menarik dana yang signifikan dari investor utama, serta bakat dari perusahaan asuransi terkemuka, dengan janji untuk "uberize" asuransi. Start-up mungkin berhasil atau mungkin gagal, tetapi penerimaan pra-peluncuran dan hasil awalnya merupakan indikasi tingkat gangguan yang dapat diharapkan.

Selanjutnya: Bagaimana insurtechs berbeda dari pemain lama




That's the article Insurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2)

That's it for the article Insurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2) this time, hopefully can be useful for all of you. well, see you in another article post.

You are now reading the articleInsurtech: ancaman yang menginspirasi (bagian 2) with link address https://www.okehub.com/2021/08/insurtech-ancaman-yang-menginspirasi_95.html